Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah berkata,
“Tidak ada kebaikan bagi seseorang, yang mana orang kafir jahiliyyah
lebih berilmu daripada dirinya tentang makna Laa ilaaha illallah“
(Kasyfu Syubuhaaat).
Sungguh kaum muslimin telah menghafal dan sering membaca kalimat Laa ilaaha illallah dengan lisan-lisan mereka.
Namun demikian tidak sedikit yang belum mengetahui maknanya secara
benar, padahal kaum musyrikin jahiliiyyah memahami makna kalimat ini.
Kalimat
tauhid adalah kalimat yang sangat agung, kalimat yang juga membedakan
antara muslim dan kafir. Seorang muslim harus memahami makna kalimat ini
dengan benar.
Kesalahan dalam memahami kalimat ini bisa menjadi
pintu pembuka terjerumus ke dalam berbagai perbuatan syirik yang
membatalkan tauhid. Semoga tulisan ringkas ini bisa memberikan pemahaman
bagi kita tentang makna kalimat tauhid yang benar.
Makna Laa Ilaaha Illallah yang Benar
Makna
Laa ilaaha illallah [ لآإِلَهَ إِلاَّ الله ] yang benar adalah [ لآ
معبود حق إِلاَّ اللهُ ] ) ( Laa ma’buuda bi haqqin illallah ), artinya
tidak ada sesembahan yang benar dan berhak untuk disembah kecuali hanya
Allah saja. Semua sesembahan yang disembah oleh manusia berupa malaikat,
jin, matahari, bulan, bintang, kuburan, berhala, dan sesembahan lainnya
dalah sesembahan yang batil, tidak bisa memberikan manfaat dan tidak
pula bisa menolak bahaya.
Pada kalimat [ لآإِلَهَ إِلاَّ الله ] terdapat empat kata yaitu:
Kata Laa ( لآُ) berarti menafikan, yakni meniadakan semua jenis sesembahan.
Kata ilaah ( إِلَهَ) berarti sesuatu yang disembah.
Kata illa (إِلاَّ ) berarti pengecualian.
Kata Allah (الله ) maksudnya bahwa Allah adalah ilaah/sesembahan yang benar.
Dengan
demikian makna [لآإِلَهَ إِلاَّ الله ] adalah menafikan segala
sesembahan selain Allah dan hanya menetapkan Allah saja sebagai
sesembahan yang benar.1
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :
ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
“(Kuasa
Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah
(Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari
Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha
Tinggi lagi Maha Besar.” (Al Hajj: 62).
Allah juga berfirman :
وَلاَ تَدْعُ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَنفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذاً مِّنَ الظَّالِمِينَ
“Dan
janganlah kamu menyembah sesuatu yang tidak bisa memberi manfaat dan
tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah. sebab jika kamu
berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu termasuk
orang-orang yang zalim“. (Yunus : 106)
Dalam kalimat syahadat
لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ
terdapat dua rukun, yaitu nafi (peniadaan) dan itsbat (penetapan).
Rukun pertama terdapat pada kalimat لآإِلَهَ.
Maksudnya adalah membatalkan seluruh sesembahan selain Allah dalam segala jenisnya dan wajib kufur terhadapnya.
Rukun kedua terdapat pada kalimat
إِلاَّ اللهُ .
Maksudnya
menetapkan bahwa hanya Allah saja satu-satunya yang berhak untuk
disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam peribadatan.
Dalilnya adalah firman Allah:
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ
“Barangsiapa
yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya
ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan
putus.“ (Al Baqarah: 256)
Pada penggalan ayat
(فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ)
merupakan rukun yang pertama yaitu
لآإِلَهَ
, sedangkan pada kalimat
(وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ)
merupakan rukun yang kedua yaitu
إِلاَّ اللهُ.
Allah Ta’ala juga berfirman :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ
“
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut ” (An Nahl :
36). 2
Kesalahan Memaknai Kalimat [ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ ]
Masih
banyak yang keliru dalam memahami makna kalimat tauhid. Terdapat
beberapa makna yang batil dan tertolak dalam memaknai لآإِلَهَ إِلاَّ
اللهُ , di antaranya adalah:
(1). Memaknai dengan لآمعبود إِلاَّ اللهُ (tidak ada sesembahan kecuali Allah).
Pemaknaan
seperti ini salah, karena konsekuensi dari makna ini berarti setiap
sesembahan baik yang disembah dengan cara yang benar maupun cara yang
batil adalah Allah.
Hal ini juga bertentangan dengan realita
yang ada, karena dapat kita saksikan bahwa sesembahan selain Allah
sangat banyak ragamnya. Ada manusia yang menyembah jin, malaikat,
matahari, bintang, batu, berhala, pohon, dan lain sebagainya.
Konsekuensi dari pemaknaan seperti ini berarti segala sesembahan yang
ada tersebut adalah Allah?! Ini jelas suatu pemaknaan yang batil.
(2). Memaknai dengan
لآخالق إِلاَّ اللهُ
(tidak ada pencipta selain Allah).
Pemaknaan seperti ini juga salah. Pemaknaan seperti ini hanya merupakan sebagian saja dari makna kalimat
لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ.
Namun bukan ini yang dimaksud, karena makna ini hanya menetapkan tauhid rububiyyah saja.
Hanya sekedar pengakuan rububiyyah saja tidak cukup, bahkan ini juga merupakan keyakinan musyrikin jahiliyyah.
Allah Ta’ala berfirman :
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
“
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang
menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah
mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? “(Az Zukhruf : 87)
Keyakinan
kaum musyrikin tentang rububiyyah Allah tidak memasukkan mereka
sebagai muslim dan tetap diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam.
Jadi sekadar memaknai rububiyyah Allah saja tidaklah cukup dan ini merupakan kesalahan.
(3). Memaknai dengan
لآحاكميةَ إِلاَّ اللهُ
(tidak ada yang menetapkan hukum selain Allah).
Pemaknaan seperti ini juga salah, karena hanya merupakan sebagian saja dari makna
لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ.
Pengakuan seperti ini saja tidak cukup dan bukan ini maksud
لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ.
Seandainya
mengesakan Allah dalam hakimiyyah (penetapan hukum) namun masih
menyembah selain Allah maka belum dikatakan bertauhid. 3
Dampak Kesalahan Memaknai
لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ
Seseorang harus memahami makna kalimat
لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ
dengan benar.
Kesalahan dalam memahami makna kalimat ini dapat mengantarkan seseorang
terjerumus dalam beragam perbuatan syirik. Syaikh Shalih Alu Syaikh
hafidzahullah menjelaskan,
“ Apa yang mereka katakan tentang
makna kalimat Laa ilaaha ilallah dengan makna rububiyyah saja akan
menyebabkan terbukanya pintu-pintu kesyirikan di tengah kaum muslimin.
Kaum muslimin akan menyangka bahwa bahwa tauhid hanyalah sekadar mentauhidkan Allah dalam perkara rububiyyah saja.
Jika seseorang sudah meyakini bahwa pengatur segala sesuatu adalah Allah saja maka sudah dianggap bertauhid.
Demikian
pula jika ada yang meyakini bahwa Zat yang tidak membutuhkan sesuatu
dan segala sesutau membutuhkan kepad Zat tersebut adalah Allah, maka
sudah dianggap bertauhid.
Keyakinan seperti ini jelas merupakan kebatilan.
Kalau
hanya sekadar rububiyyah, kaum musyrikin dahulu juga memahami dan
meyakini rububiyyah, sebagaimana Allah terangkan dalam Al Qur’an :
وَلَئِن
سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ
وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
“ Dan
sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan
langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan
menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan
yang benar) ” (Al Ankabut : 61)
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ
“Dan
sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan
langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan
oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui “. (Az Zukhruf : 9).
قُلْ
مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ
والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ
الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ
فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ
“Katakanlah: “Siapakah yang memberi
rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa
(menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang
mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari
yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan
menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa
kepada-Nya)?” ( Yunus : 31).4
Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa kaum musyrikin dahulu tidak mengingkari makna rububiyyah.
Kita
bisa amati masih banyak praktek kesyirikan yang dilakukan oleh sebagian
kaum muslimin seperti berdoa, menyembelih, dan memberika sesaji kepada
selain Allah.
Mereka beranggapan sudah bertauhid kepada Allah
dengan cukup meyakini rububiyyah Allah, meskipun mereka menujukan
sebagian ibadah mereka kepada selain Allah. Ini terjadi karena mereka
tidak memahami makna tauhid dengan benar.
Demikianlah penjelasan yang ringkas tentang makna
لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ
yang benar dan beberapa kesalahan dalam memaknainya.
Semoga menambah ilmu dan iman kita. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad.
***
Penulis: dr. Adika Mianoki
Artikel Muslim.or.id
____
1 Lihat pembahasan selengkapnya dalam At-Tamhiid li Syarhi Kitabi At Tauhiid 72-78
2 Lihat At Tauhid Al Muyassar hal 14
3 Lihat At-Tauhid Al-Muyassar 13-15 dan ‘Aqidatu At-Tauhid 39-42
4 Lihat At-Tamhiid li Syarhi Kitabi At Tauhiid 86-87
sumber: https://muslim.or.id/27745-
Home »
» KESALAHAN MEMAHAMI MAKNA LAA ILAAHA ILALLAH






Tidak ada komentar:
Posting Komentar