TABARRUK/NGALAP BERKAH DALAM ULASAN ULAMA SYAFI’IYYAH_✍️

 Unta di padang pasir Arab Saudi ...

🖋Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

Prolog

Saya pernah mendengar penuturan salah seorang kawan saya sendiri, dan kisah ini adalah kisah yang ia alami secara langsung. Kawan saya ini berasal dari salah satu pondok pesantren di Kota Jombang Jawa Timur. Pada suatu hari ia diajak oleh bibinya untuk berkunjung ke daerah Nganjuk –Jawa Timur- guna mengunjungi seorang wali. Setibanya di rumah wali itu, dia dipersilahkan masuk ke ruang tamu laki-laki, sedangkan bibinya dipersilahkan masuk ke ruang tamu wanita. 

Sepulang dari rumah wali itu, bibinya berkata: Wah, tadi di ruang wanita, saya menyaksikan beberapa wali, di antaranya ada wali laki-laki yang keluar menemui kita dengan telanjang bulat dan tidak sehelai benangpun menempel di badannya. Setelah berada di tengah-tengah ruangan, wali telanjang itu disodori sebatang rokok oleh sebagian pelayannya, maka iapun mulai mengisap rokok, dan baru beberapa isapan, rokoknya dicampakkan ke lantai. 

Melihat puntung rokok wali telanjang yang tergeletak di lantai itu, ibu-ibu yang sedang berada di ruang tamu berebut memungutnya, dan setelah seorang ibu berhasil mendapatkannya ia buru-buru memerintahkan anaknya yang masih ingusan, yang kala itu bersamanya untuk ganti mengisap puntung rokok itu, dengan alasan “agar mendapatkan keberkahan sang wali dan menjadi anak pandai”. 
(📚Dzikir Ala Tasawwuf  hlm. 45 karya Dr. Muhammad Arifin Badri) 

“Ketika penulis diberi kesempatan ke kota Martapura sebagian kaum muslimin di sana dengan penuh keprihatinan bercerita: “Kira-kira 1 bulan setelah guru Ijay dimakamkan, nisan yang di atas kuburannya hampir ambruk, pasalnya setiap hari puluhan atau ratusan orang berziarah berebut menciumi dan mengusap-ngusap nisan tersebut!!” Hanya kepada Allah kita mengadu kejahilan sebagian kaum muslimin tersebut. (📚Imam Syafi’I Menggugat Syirik, Abdullah Zaen hlm. 115-116).

Dua nukilan kisah di atas cukup mewakili beragam fenomena tabarruk di negeri ini. Setiap orang pasti ingin untuk meraih keberkahan dalam hidupnya dalam ilmunya, hartanya, keluarganya, usahanya dan lain sebagainya. Tak aneh, dalam Islam kita dianjurkan acapkali bertemu dengan saudara kita untuk saling mendoakan keberkahan seraya mengatakan ”As-Salamu alaikum wa rohmatullahi wa barokatuhu”. (Semoga keselamatan atas kalian dan rahmat Allah serta keberkahan atas kalian).

Hanya saja masalahnya, banyak di antara kaum muslimin yang salah kaprah dalam mencari keberkahan ini, sehingga mencarinya dengan hal-hal yang tidak bisa mendatangkan keberkahan menurut kaca mata Islam dan tidak sesuai dengan tuntunan Nabi sehingga mereka terjerumus pada budaya jahiliyyah yang ngalap berkah dengan salah kaprah. 

Para ulama salaf telah memperingatkan kita semua akan masalah ini. Di antara deretan para ulama yang gencar menjelaskan masalah ini adalah para ulama madzhab Syafi’i. Berikut ini sedikit penjelasan tentang jerih payah para ulama Syafi’iyyah dalam menguak masalah ini. Semoga bermanfaat.

🔰
Defenisi Tabarruk_✍️

Barokah secara bahasa berkembang dan bertambah. Yaitu kebaikan yang banyak melimpah dan terus menerus.  
(📚Lihat Al-Qomus Al-Muhith oleh al-Fairuz Abadi 3/293, Lisanul Arob oleh Ibnul Mandzur 10/395)

🔰
Pembagian Tabarruk_✍️

Sesungguhnya Tabarruk atau yang biasa disebut dengan ngalap berkah ada dua:👇

👉1. Tabarruk masyru’ yaitu tabarruk dengan hal-hal yang disyari’atkan seperti Al-Qur’an, air zam-zam, bulan ramadhan dan sebagainya. Akan tetapi tidak boleh bertabarruk dengan hal-hal tersebut kecuali seizin syari’at, sesuai petunjuk Nabi dan dengan niat bahwa hal itu hanyalah sebab, sedangkan yang memberikan barokah adalah Allah, sebagaimana kata Nabi:

الْبَرَكَةُ مِنَ اللهِ

“Barokah itu (bersumber) dari Allah”. 
(📚HR. Bukhori 3579)

👉2. Tabarruk Mamnu’ yaitu tabarruk dengan hal-hal yang tidak disyari’atkan maka tidak boleh, seperti tabarruk dengan pohon, batu ajaib (!), kuburan, dzat kyai dan lain sebagainya.  
(📚Lihat masalah tabarruk secara luas dan bagus dalam kitab “At-Tabarruk Anwa’uhu waa Ahkamuhu” oleh DR. Nashir bin Abdirrahman al-Judai’)

Jenis tabarruk ini telah diiingkari secara keras oleh para ulama Syafi’iyyah. Menarik sekali dalam masalah ini apa yang dikisahkan bahwa tatkala ada berita sampai kepada telinga Imam Syafi’I bahwa sebagian orang ada yang bertabarruk dengan peci Imam Malik, maka serta merta beliau mengingkari perbuatan itu.  (📚Lihat Manaqib Syafi’I 1/508 oleh al-Baihaqi dan Syarh Arba’in Al-‘Ajluniyyah hlm. 262-263 oleh Syaikh Jamaluddin al-Qosimi)

Demikian juga para ulama Syafi’iyyah setelah beliau. Berikut beberapa bukti tentang hal itu:👇

Ucapan Emas Khalifah Umar bin Khothob

Amirul mukminin Umar bin Khoththob pernah berkata ketika mencium hajar aswad:

إِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ ، وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

Saya tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan bahaya atau manfaat. Seandainya saya tidak melihat Rasulullah menciummu maka saya tidak menciummu.  (📚HR. Bukhori 1597 dan Muslim 1270)

Para ulama Syafi’iyyah telah menjelaskan ucapan Khalifah Umar di atas. Imam Ibnul Mulaqqin berkata: "Ucapan ini merupakan pokok dan landasan yang sangat agung dalam masalah ittiba' (mengikuti) kepada Nabi sekalipun tidak mengetahui alasannya, serta meninggalkan ajaran Jahiliyyah berupa pengagungan terhadap patung dan batu, karena memang tidak ada yang dapat memberikan manfaat dan menolak bahaya kecuali hanya Allah semata, sedangkan batu tidak bisa memberikan manfaat, lain halnya dengan keyakinan kaum Jahiliyyah terhadap patung-patung mereka, maka Umar ingin memberantas anggapan keliru tersebut yang masih menempel dalam benak manusia". 
(📚Al-I'lam bi Fawa'id Umadatil Ahkam 6/190. Lihat komentar indah para ulama madzhab Syafi'i lainnya seperti al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3/45, an-Nawawi dalam Al-Majmu’ 8/31, Ibnu Daqiq al-I’ed dalam Ihkamul Ahkam hlm. 469, Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 7/255 tentang atsar ini). 

🔰
Tabarruk dengan Maqom Ibrohim_✍️

Para ulama Syafi’iyyah juga sering menukil ucapan ulama salaf shalih yang melarang untuk mengusap-ngusap maqom Ibrahim untuk mencari keberkahannya padanya. Al-Halimi mengatakan: “Dan hendaknya tidak mengusap maqom Ibrahim atau menciuminya”. Lalu membawakan beberapa tasar, diantaranya riwayat dari Ibnu Zubair bahwasanya beliau melihat beberapa orang mengusap maqom, maka beliau melarangnya seraya mengatakan: “Sesungguhnya kalian tidak diperintahkan mengusap, kalian hanya diperintahkan untuk sholat di belakangnya”. (📚Al-Minhaj Fi Syu’abil Iman 2/453) 

Ketika menafsirkan surat al-Baqoroh: 125, Imam al-Baghowi dan Ibnu Katsir menukil ucapan Qotadah: “Sesungguhnya mereka diperintah untuk sholat di sekitar Maqom dan tidak diperintahkan untuk mengusapnya. Umat ini telah takallfu (memberatkan diri) seperti yang dilakukan umat sebelum mereka. Sebagian orang yang melihat tanda kaki dan jari di dalamnya masih jelas, namun umat ini tatkala sering mengusapnya sehingga sekarang luntur tidak jelas”. 
(📚Ma’alim Tanzil 1/148, Tafsir Qur’anil Azhim 1/170)

🔰 
Tabarruk Dengan Kuburan dan Semisalnya_✍️

Para ulama Syafi’iyyah mengingkari dengan keras tabarruk dengan kuburan yang banyak dilakukan oleh masyarakat pada zaman sekarang. Berikut beberapa ucapan mereka:
Imam Nawawi berkata:

وَمَنْ خَطَرَ بِبَالِهِ أَنَّ الْمَسْحَ بِالْيَدِ وَنَحْوِهِ أَبْلَغُ فِي الْبَرَكَةِ فَهُوَ مِنْ جَهَالَتِهِ وَغَفْلَتِهِ لِأَنَّ الْبَرَكَةَ إِنَّمَا هِيَ فِيْمَا وَافَقَ الشَّرْعَ وَكَيْفَ يَنْبَغِي الْفَضْلَ فِيْ مُخَالَفَةِ الصَّوَابِ؟

 “Barangsiapa yang terbesit dalam hatinya bahwa mengusap-ngusap dengan tangan dan semisalnya lebih mendatangkan barokah maka hal itu menunjukkan kejahilannya dan kelalaiannya, karena barokah itu hanyalah yang sesuai dengan syari’at. Bagaimanakah mencari keutamaan dengan menyelisihi kebenaran?!”. 
(📚Al-Majmu’ Syarh Muhadzab 8/275)

Al-Ghozali juga berkata: 

فَإِنَّ الْمَسَّ وَالتَّقْبِيْلَ لِلْمَشَاهِدِ عَادَةُ الْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى

“Sesungguhnya mengusap-ngusap dan menciumi kuburan merupakan adat istiadat kaum Yahudi dan Nashoro”. 
(📚Ihya’ Ulumuddin 1/271)

Imam Abu Syamah berkata ketika membicarakan bid’ah-bid’ah yang dianggap sebagai ibadah: “Termasuk jenis ini adalah apa yang mewabah pada zaman sekarang karena tipu daya syetan kepada masyarakat untuk memberi wewangian dan lampu suatu tempat yang dikeramatkan di lih setiap kota. Hanya karena mimpi seseorang bahwa dia melihat orang shalih atau wali di tempat tersebut sehingga mereka memakmurkannya dan menjaganya padahal kewajiban dan sunnah Allah mereka lalaikan, kemudian mereka menyangka bahwa mereka sedang mendekatkan diri kepada Allah”. 
(📚Al-Baits ‘ala Inkaril Bida’I wal Hawadits hlm. 101)

Imam as-Suyuthi menguatkan ucapan Abu Syamah di atas dan menganggapnys sebagai kemunkaran. Di tempat lainnya beliau mengatakan: “Mimpi melihat Nabi atau orang shalih tentang suatu tempat tidak menjadikannya sebuah keutamaan atau menjadikannya sebagai tempat ibadah. Itu hanyalah dilakukan oleh ahli kitab. Tempat-tempat yang dianggap keramat seperti ini banyak sekali bertebaran di kota dan desa, padahal semuanya tidak memiliki keistimewaan. Sebab, mengagungkan tempat yang tidak diagungkan oleh syari’at justru adalah tempat yang jelek sebab dijadikan sebagai tandingan bagi rumah Allah dan beribadah pada sesuatu yang tidak bisa mendatangkan manfaat atau menolak madharat sehingga menghalangi manusia dari jalan Allah (tauhid)”. 
(📚Al-Amru bil Ittiba’ wa Nahyu ‘anil Ibtida’ hlm. 122-123)

🔰
Hikmah Tersembunyinya Pohon Baiat Ridhwan_✍️

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengambil istimbath dari kisah diutusnya Jarir bin Abdillah oleh Nabi guna menghancurkan patung Dzil Khilshoh: “Disyari’atkannya menghancurkan tempat-tempat yang mendatangkan fitnah bagi manusia baik berupa bangunan atau lainnya, manusia, hewan atau benda padat”. (📚Fathul Bari 16/194)

Beliau juga menjelaskan hikmah tersembunyinya pohon Bai’at Ridhwan adalah agar tidak menjadi fitnah bagi manusia. Seandainya tetap ada, maka tidak merasa aman dari pengangungan orang-orang bodoh terhadapnya, bahkan mungkin bisa jadi menjurus kepada keyakinan bahwa pohon itu bisa memberikan manfaat atau menolak madharat sebagaimana banyak kita saksikan sekarang. Inilah yang diisyaratkan oleh Ibnu Umar tatkala mengatakan: “Tersembunyinya pohon baiat ridhwan adalah rahmat Allah”. (📚Idem 12/79)

🔰
Tabarruk Salah Bisa Sampai Derjat Kufur_✍️

Tabarruk terlarang bertingkat-tingkat derajatnya, ada yang hanya bid’ah dan syirik kecil dan ada juga yang sampai pada taraf syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari agama, sebagaimana dikatakan oleh as-Suyuthi tentang budaya tumbal untuk ngalap berkah, beliau mengatakan: “Mereka memotong ekor sapi, kambing, domba dengan batu untuk mencari keberkahan. Semua ini adalah bathil tidak diragukan lagi tentang keharamannya. Sebagian haram ini bisa sampai taraf dosa besar dan ada yang sampai kepada kekufuran sesuai dengan maksud dan tujuan”.  
(📚Al-Amru bil Ittiba’ hlm. 142)

🔰
Penutup

Demikianlah ketegasan para ulama Syafi’iyyah, lantas bandingkanlah hal ini dengan fakta yang ada pada kaum muslimin sekarang!!  Berikut ini dua kisah nyata tentang fakta di lapangan sekarang, kemudian saya serahkan komentar dan hukumnya kepada para pembaca sekalian.

Dikisahkan bahwa para pengikut al-Hallaj (tokoh Sufi) sangat berlebihan dalam ngalap berkah padanya, sehingga mereka ngalap berkah dengan air kencingnya dan kotorannya. (📚Lihat Tarikh Baghdad 8/136-138 dan al-I’tishom 2/10 oleh asy-Syathibi)

Lebih gila lagi dari itu pada zaman sekarang, di Sudan ada yang ngalap berkah dengan cara berhubungan intim suami istri di kuburan wali dengan alasan untuk cari keberkahan dan agar kelak mendapatkan anugerah anak shalih (!) (📚Lihat at-Tabarruk Anwa’uhu wa Ahkamuhu hlm.473-474 oleh Dr. Nashir al-Juda’i)

Setelah kuperhatikan, ternyata di negeriku ini, mirip dengan kasus di atas bahkan mungkin lebih gila. Jika pengikut al-Hallaj ngalap berkah dengan kotorannya, di Indones ia ada yang ngalap berkah dengan kotoran “kyai selamet” alias hewan kerbau kraton yang dikeluarkan pada bulan Muharram. 
 Dan jika di Sudan ada yang ngalap berkah dengan hubungan intim suami istri di kuburan wali, maka di Indonesia lebih parah lagi, malah hubungan seks bebas alias zina di makam keramat sebagai ritual ziarahnya. 
(📚Lihat Kuburan-Kuburan Keramat di Nusantara hlm. 134 dan 141 oleh Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede).

Semoga paparan singkat ini menyadarkan sebagian kalangan yang masih terjebak dalam kejahilan dan kesesatan dalam masalah ini. 

* Penulis banyak mengambil manfaat dari kitab Juhud Syafi’iyyah fi Taqriri Tauhid Al-Ibadah hlm. 581-595 karya Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-‘Unquri, cet Dar Tauhid, KSA, cet pertama 1425 H

Share:

Ada Apa dengan Tabarruk?

Permata Unik di Negeri Padang Pasir ...

Tabarruk ( التَّبَرُّك ), ditinjau dari bentuk katanya merupakan mashdar dari tabarraka-yatabarraku (تَبَرَّكَ – يَتَبَرَّكُ) yang artinya mencari barakah. Di kalangan masyarakat Indonesia (baca: Jawa), tabarruk lebih dikenal dengan sebutan “ngalap berkah”.

Di dalam kitab-kitab ulama ternama disebutkan bahwa barakah adalah kebaikan yang meliputi sesuatu dan senatiasa bertambah. Barakah hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala. Dari-Nya barakah itu bersumber dan dari-Nya pula diminta.

Asy-Syaikh al-Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Mencari kebaikan yang senantiasa ada dan bertambah itu (barakah, pen.) hanya-lah dari Dzat yang memilikinya dan mampu memberikannya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, Dia-lah yang menurunkan barakah tersebut dan menetapkannya. Adapun makhluk, sungguh tidak mampu memberikan barakah dan mewujudkannya. Tidak pula dia mampu mengukuhkan dan mengekalkannya.” (al-Irsyad ila Shahihil I’tiqad, hlm. 335)

Dengan segala hikmah-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala meletakkan barakah pada sebagian makhluk yang dipilih dan dikehendaki-Nya. Adakalanya pada tempat, manusia, waktu, amalan, sifat dan sebagainya. Semua itu sebagai tanda dari tandatanda kekuasaan dan prerogatif Allah subhanahu wa ta’ala atas seluruh makhluk-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُۗ
“Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” (al- Qashash: 68)

Jadi, penentuan bahwa tempat, manusia, waktu, amalan, sifat dan sebagainya itu berbarakah, tak bisa dengan main kira-kira atau asal duga, apalagi direkayasa. Tak bisa pula berdasar pada wangsit, primpen, atau ramalan “orang pintar”. Semuanya harus merujuk kepada dalil yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Melacak Akar Tabarruk

Fenomena tabarruk alias ngalap berkah bukan hal baru dalam kehidupan umat manusia. Salah kaprah dalam memahami dan menerapkannya benarbenar menjerumuskan pelakunya ke dalam kubangan syirik. Kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam, salah satu bukti sejarahnya.

Alkisah, kala itu umat Nabi Nuh ‘alaihissalam sangat mencintai orang-orang saleh yang hidup di tengah-tengah mereka; Wadd, Suwa’, Ya’uq, Yaguts, dan Nasr. Dengan takdir Allah subhanahu wa ta’ala, lima orang saleh tersebut meninggal dunia dalam waktu yang berdekatan. Kepergian orang-orang mulia lagi terhormat yang selama ini membimbing dan mengarahkan mereka itu benar-benar menyisakan duka lara yang mendalam.

Sebagai bentuk penghormatan dan balas budi kepada mereka dibuatlah monumen berupa patung atau gambar mereka. Dipancanglah patung atau gambar mereka itu di tempat-tempat strategis, antara lain untuk mendobrak semangat ibadah dan kebaikan kala menyaksikan monumen para mendiang tersebut.

Kuburan mereka pun diistimewakan. Umat Nabi Nuh ‘alaihissalam ngalap berkah dari Allah subhanahu wa ta’ala di sisi kuburan orang-orang saleh tersebut. Itulah awal penyimpangan mereka, dan dari situlah penyimpangan berikutnya yang lebih besar (syirik) bermula.

Roda zaman berputar, generasi punberganti, sementara ilmu agama memudar seiring dengan wafatnya para ulama. Di saat itulah setan datang menggoda menyesatkan mereka.

Apa gerangan yang terjadi? Akhirnya, kuburan orang-orang saleh yang tadinya diistimewakan “sebatas” untuk tempat beribadah, berdoa, memohon berkah, rezeki, dan sebagainya dari Allah subhanahu wa ta’ala, kini menjadi tempat yang lebih sakral dan dikeramatkan.

Segala bentuk ibadah di sisi kuburan orang-orang saleh tersebut yang tadinya ditujukan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kini ditujukan kepada para penghuni kubur. Doa yang tadinya dipanjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kinidipanjatkan kepada orang-orang saleh tersebut. Rezeki, keselamatan, kesehatan, dan sebagainya yang tadinya dimohon dari Allah subhanahu wa ta’ala, kini dimohon langsu…
[09.39, 11/2/2026] Abu Aish (B Purwantara): ✔️Kalau tidak bermadzhab, gimana bisa memahami dalil-dalil? Apa dengan pemahaman sendiri?_✍️

Ini salah satu pertanyaan sinis terhadap sebagian saudara kita yang tidak bermadzhab. Bahkan sering di-framing, bahwa yang tidak bermadzhab berarti anti-pendapat ulama (madzhab). 

Padahal ulama dan kaum Muslimin yang tidak bermadzhab bukan berarti memahami dalil dari pemahaman sendiri. Justru mereka tetap memahami dalil dari penjelasan para ulama (madzhab) tapi tidak terbatas (terikat/Fanatik) pada ulama madzhab tertentu. 

Bahkan mereka ini semakin luas scope ulama yang bisa diambil perkataannya. Karena tidak berkutat pada pendapat ulama golongan tertentu. Selama penjelasan ulama tersebut sejalan dengan dalil dan memperjelas pemahaman terhadap dalil maka bisa diambil penjelasannya. 

Sehingga, sebetulnya mereka juga bermadzhab. Sering diistilahkan dengan "madzhab ahlul hadits" atau "madzhab fiqhud dalil".

Bermadzhab dan tidak bermadzhab boleh saja. Namun yang jadi patokan utama tetaplah dalil. 

Seseorang jika dalam suatu masalah, ia mengetahui dalilnya plus penjelasannya dari ulama, maka ia wajib ikuti dalil. Adapun masalah yang belum ia ketahui dalilnya, boleh baginya taklid kepada pendapat ulama, baik ulama madzhab atau ulama non madzhab. 

Semoga Allah memberi taufik.

🖊Ustadz Yulian Purnama hafizhahullah
(Pelajar madzhab Hambali)

Share:

Bagaimana cara beristigfar?

Lubang Ozon di Kutub Selatan Kini Lebih ...

Ternyata "Astaghfirullah Robbal Baroya " Bukan ajaran Nabi Muhammmad Shallallahu alaihi wa Sallam

Saya fikir ini adalah lafadz taubat yang datang dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam, karena disampaikan dibanyak taklim kyai dan habib, banyak di kumandangkan di kajian di masjid dan mushola,

Ternyata setelah mengenal Dakwah sesuai Sunnah baru paham itu lafadz yang diambil dari syair Arab dan tidak jelas asal usulnya, 
Allahua'lam. 

--------------

Bagaimana cara beristigfar?

Setelah kita ketahui tentang istigfar, mengapa kita perlu beristigfar, keutamaan-keutamaan istigfar, lalu bagaimana cara kita beristigfar? Istigfar bisa dilakukan dengan mengucapkan lafaz-lafaz istigfar yang mengandung makna meminta ampunan. Bisa menggunakan lafaz astaghfirullah; atau astaghfirullah wa atuubu ilaih; dan juga lafadz istigfar lainnya yang bisa digunakan.

Di antara lafaz istigfar yang bisa diucapkan adalah doa sayyidul istigfar, yaitu,

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي، وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَىٰ عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

Allahumma anta rabbii, laa ilaaha illaa anta, khalaqtanii, wa anaa ‘abduka, wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa‘dika mastaṭa‘tu, a‘uudzu bika min syarri maa ṣhana‘tu, abuu’u laka bini‘matika ‘alayya, wa abuu’u bidzanbii, faghfir lii, fa innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta

“Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas janji dan perjanjian kepada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu atasku, dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.” (HR. Bukhari)

Selain itu, ada juga lafaz istigfar yang lain, yaitu,

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

Astaghfirullahal‘azhiim aladzii laa ilaaha illaa huwal hayyuul qayyuumu wa atuubu ilaih

“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya.” (HR. Tirmidzi)

Sumber referensi Muslim. Or. Id

Share:

KAMBING TURUN DARI LANGIT

 Efek Pemanasan Global Pada Kutub Utara ...

Kelompok sesat dan menyimpang itu memahami dalil alquran dan assunnah tidak sebagaimana para salafushshaleh pahami. Mereka memahaminya dengan hawa nafsu, akal, perasaan dan cocokologi, sebagaimana ayat dibawah ini, yang mereka visualisasikan turunnya domba dari langit, dan dituduhkan kepada salafi, bahwa salafi pemahamannya anti takwil (tekstual).

Allah Ta'ala berfirman, 

{وَأَنزلَ لَكُمْ مِنَ الأنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ}

Dan Dia menurunkan untuk kalian delapan ekor yang berpasang-pasangan dari binatang ternak. (Az-Zumar: 6).

Padahal salafi memahami dalil alquran dan assunnah sebagaimana para salafushshaleh memahami. Sehingga mereka berada di atas kebenaran dan jalan yang lurus. 

Berkata Al Baghowi rahimahullah, 

معنى الإنزال هاهنا : الإحداث والإنشاء 

Makna turun disini adalah mencipta dan mewujudkan. (Tafsir Al Baghowi).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah, 

 أي: وخلق لكم من ظهور الأنعام ثمانية ، أزواج وهي المذكورة في سورة الأنعام : { ثمانية أزواج من الضأن اثنين ومن المعز اثنين } [ الأنعام : 143 ] ، { ومن الإبل اثنين ومن البقر اثنين } [ الأنعام : 144"

Maksudnya, Dia telah menciptakan bagi kalian dari binatang ternak delapan ekor yang berpasang-pasangan, seperti yang disebutkan di dalam surat Al-An'am dengan istilah samaniyata azwaj, yaitu sepasang dari domba, sepasang dari kambing (al ancaman 153), sepasang dari unta, dan sepasang lagi dari sapi (al an'am 144). (Tafsir Ibnu Katsir). 

Didalam tafsir As Sa'di disebutkan, 

أي: خلقها بقدر نازل منه، رحمة بكم."

Maksudnya, Dia menciptakannya dengan ketentuan yang datang dariNya sebagai rahmat (kasih sayang). (Tafsir As Sa'di).

Memvisualkan turunnya kambing atau domba dari langit, sebenarnya tujuan mereka untuk membantah sifat turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia. Dimana mereka hobi mentakwil nama dan sifatnya Allah Ta'ala. Pemahaman yang menyimpang dari aqidah ahlussunnah wal jama’ah. 

Perhatikan dalil hadits Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam tentang turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia di sepertiga malam terakhir dan bagaimana para salafushshaleh memahaminya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

”Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berkata Imam Syafii rahimahullah :

القول في السنة التى أنا عليها ورأيت أصحابنا عليها أهل الحديث الذين رأيتهم وأخذت عنهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الإقرار بشهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وأن الله تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وأن الله تعالى ينزل إلى سماء الدنيا كيف شاء

“Pendapat dalam sunnah yang aku di atasnya dan aku melihat para shahabat kami juga di atasnya yaitu ahlul hadits yang aku melihat mereka dan mengambil ilmu dari mereka seperti Sufyan, Malik dan lainnya adalah menetapkan syahadat laa ilaaha illallah wa anna muhammadan rosulullah dan bahwasannya Allah di atas Arasnya di langit, Dia mendekat kepada makhluknya dengan apa yang ia kehendaki. Dan bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia dengan cara yang Dia kehendaki”. Mukhtashar Al-‘Uluw - hal. 176). Sumber : Al Islam Sual Wa Jawab 228372. 

Berkata Adz Dzahabi rahimahullah :

 "روى شيخ الْإِسْلَام أَبُو الْحسن الهكاري والحافظ أَبُو مُحَمَّد الْمَقْدِسِي بإسنادهم إِلَى أبي ثَوْر وَأبي شُعَيْب كِلَاهُمَا عَن الإِمَام مُحَمَّد بن إِدْرِيس الشَّافِعِي نَاصِر الحَدِيث رَحمَه الله تَعَالَى قَالَ القَوْل فِي السّنة الَّتِي أَنا عَلَيْهَا وَرَأَيْت عَلَيْهَا الَّذين رَأَيْتهمْ مثل سُفْيَان وَمَالك وَغَيرهمَا الْإِقْرَار بِشَهَادَة أَن لَا إِلَه إِلَّا الله وَأَن مُحَمَّدًا رَسُول الله وَأَن الله على عَرْشه فِي سمائه يقرب من خلقه كَيفَ شَاءَ وَينزل إِلَى السَّمَاء الدُّنْيَا كَيفَ شَاءَ وَذكر سَائِر الِاعْتِقَاد.

“Syeikhul Islam Abul Hasan al Hakâri dan al Hafidz Abu Muhammad al Maqdisi dengan sanad mereka kepada Abu Tsaur dan Abu Syu’aib keduanya dari Imam Muhammad bin Idris asy Syafi’i –pembela Sunnah- semoga rahmat Allah atasnya, ia berkata, ““Pendapat (yang benar) yang sesuai dengan Sunnah yang saya yakini dan saya saksikan para ulama kami dan para Ahli Hadis yang saya belajar (agama) dari mereka seperti Sufyan ats Tsawri, Malik dan lainnya meyakininya adalah: Bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Dan sesungguhnya Allah –Ta’âla- di atas Arsy-Nya di atas langit sana, Dia mendekat dari ciptaan-Nya sesuai yang Dia kehendaki. Dan bahwa Allah turun ke langit dunia sesuai dengan yang Dia kehendaki.” (Al 'Uluw - Adz Dzahabi 165). Sumber : Al Islam Sual Wa Jawab 291050. 

Para ahli takwil untuk membantah dalil tentang AllahTa’ala turun ke langit dunia, mereka mengunakan akal logikanya yang sempit, bahwa kalau Allah turun ke langit dunia di setiap malam, berarti arsynya Allah kosong. Dan waktu sepertiga malam terakhir itu berbeda-beda, berarti Allah Ta'ala kerjanya keliling turun naik terus setiap malam. Inilah logika dangkal, karena berfikirnya dengan dimensi makhluk. Dan para ulama terdahulu maupun ulama sekarang telah membantah argumennya. 

Berkata Syekh Abdul Aziz Bin Marzuq rahimahullah dalam kitabnya Syarah Akidah Salaf Ashabul Hadist :

...محمد بن سلام سألت عبد الله بن المبارك عن نزول ليلة النصف من شعبان، فقال عبد الله: يا ضعيف في كل ليلة ينزل].

...Berkata Muhammad Bin Salam rahimahullah, aku bertanya kepada Abdullah bin Mubarak tentang turunnya (Allah) di malam pertengahan bulan Sya'ban (nisfu syaban).

Maka berkata Abdullah, Wahai dho'iif (orang yang lemah), di setiap malam Dia (Allah) turun.

وفي نسخة: [يا ضعيف ليلة النصف، ينزل في كل ليلة].

Di dalam salinan (nuskhoh yang lain) : Wahai dho'iif (orang yang lemah), di malam nisfu (saja ?), (bahkan) Dia (Allah) turun di setiap malam.

قال المؤلف رحمه الله تعالى: [فقال الرجل: يا أبا عبد الرحمن كيف ينزل؟ أليس يخلو ذلك المكان منه؟ فقال عبد الله: ينزل كيف شاء].

Berkata penulis Rahimahullah Ta'ala : Lalu seorang laki-laki berkata : Wahai Aba Abdirrahman bagaimana Dia turun? Bukankah tempatnya itu menjadi kosong? Maka berkata Abdullah, Dia turun sebagaimana Dia kehendaki.

وفي رواية أخرى لهذه الحكاية: أن عبد الله بن المبارك قال للرجل: إذا جاءك الحديث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم فاخضع له. شرح عقيدة السلف أصحاب الحديث - (للشيخ : عبد العزيز بن مرزوق الطريفي)

Dan dalam riwayat lain tentang hikayat ini. Bahwasanya Abdullah Bin Mubarak Dia berkata kepada seseorang: Apabila datang kepadamu sebuah hadits dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, maka tunduklah padanya. (Syarah Akidah Salaf Ashabul Hadist). Sumber : https://al-maktaba.org/book/32180/82

Syeikh Bin Baz rahimahullah ditanya, 

كيف نرد على من قال: إنكم تقولون: أن الله ينزل إلى السماء الدنيا بالثلث الأخير من الليل فإن ذلك يقتضي تركه العرش؛ لأن ثلث الليل الأخير ليس في وقت واحد على أهل الأرض؟

Bagaimana menjawab pertanyaan seseorang yang berkata: “Anda mengatakan bahwa Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam akhir. Berarti ketika itu Allah meninggalkan Arsy? Selain itu sepertiga malam akhir itu tidak sama waktunya di semua belahan bumi.”

Beliau menjawab, 

هذا كلام رسول الله ﷺ فهو القائل عليه الصلاة والسلام: ينزل ربنا تبارك وتعالي إلى السماء الدنيا كل ليلة حين يبقي ثلث الليل الآخر؛ فيقول: من يدعوني فأستجيب له؟ من يسألني فأعطيه؟ من يستغفرني فأغفر له؟ حتى ينفجر الفجر 

Ini kalam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Beliau yang mengatakan alaihiishsholatu wasallam. 

“Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap sepertiga malam akhir. Ia lalu berkata: ‘Barangsiapa yang berdoa, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni. Hingga terbit fajar‘ ” (HR. Bukhari 1145, Muslim 758). 

متفق على صحته، وقد بين العلماء أنه نزول يليق بالله وليس مثل نزولنا، لا يعلم كيفيته إلا هو سبحانه وتعالى، فهو ينزل كما يشاء، ولا يلزم من ذلك خلو العرش فهو نزول يليق به ، والثلث يختلف في أنحاء الدنيا وهذا شيء يختص به تعالى لا يشابه خلقه في شيء من صفاته 

Hadits ini disepakati keshahihannya. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud nuzul (turun) di sini adalah sifat nuzul yang layak bagi Allah bukan sebagaimana kita turun. Tidak ada yang mengetahui bagaimana bentuk turunnya kecuali Allah. Allah Ta’ala turun ketika Ia menginginkannya, dan ini tidak berarti ketika itu Arsy kosong, karena sifat nuzul di sini adalah nuzul yang layak bagi Allah Jalla Jalaluhu.

Juga masalah sepertiga malam akhir itu tidak sama waktunya di semua belahan bumi, nuzul Allah itu khusus bagi Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya sedikitpun. 

كما قال سبحانه: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ [الشورى: 11] وقال جل وعلا: يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا [طه: 110] وقال في آية الكرسي: وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ [البقرة: 255] 

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Asy Syura: 11)

Allah Jalla Jalaluhu juga berfirman:

“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya” (QS. Thaha: 110)

Allah Azza Wa Jalla juga berfirman dalam ayat kursi:

“Mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya” (QS. Al Baqarah: 255)

والآيات في هذا المعنى كثيرة، وهو سبحانه أعلم بكيفية نزوله، فعلينا أن نثبت النزول على الوجه الذي يليق بالله، ومع كونه استوى على العرش، فهو ينزل كما يليق به  ليس كنزولنا إذا نزل فلان من السطح خلا منه السطح، وإذا نزل من السيارة خلت منه السيارة فهذا قياس فاسد له، لأنه سبحانه لا يقاس بخلقه، ولا يشبه خلقه في شيء من صفاته. 

Ayat-ayat yang semakna dengan ini banyak sekali. Hanya Allah yang tahu bagaimana bentuk nuzul-Nya. Yang wajib bagi kita adalah menetapkan sifat nuzul bagi Allah sesuai apa yang layak bagi-Nya, dalam keadaan Ia berada di atas Arsy. Karena yang dimaksud nuzul di sini adalah sifat nuzul yang layak bagi Allah bukan sebagaimana kita turun. Yaitu jika seseorang turun dari suatu tempat yang tinggi, maka tempat tersebut akan kosong. Atau jika seseorang turun dari mobil maka mobil tersebut akan kosong. Ini adalah qiyas (analogi) yang rusak. Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak boleh dianalogikan dengan makhluk-Nya. Dan tidak menyerupai sifat makhluk-Nya sedikitpun... Majmu Fatawa. Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/4233  

Syekh Utsaimin rahimahullah ditanya :

ولكن هل يستلزم نزول الله عز وجل خلو العرش منه أو لا ؟

Akan tetapi, apakah turunnya Allah Azza wa Jalla berarti dia harus meninggalkan Arasy-Nya atau tidak?

Beliau menjawab : 

نقول أصل هذا السؤال تنطُّعٌ وإيراده غير مشكور عليه مورده ، لأننا نسأل هل أنت أحرص من الصحابة على فهم صفات الله ؟ إن قال : نعم . فقد كذب . وإن قال : لا . قلنا فلْيَسَعْكَ ما وسعهم ، فهم ما سألوا رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وقالوا : يارسول الله إذا نزل هل يخلو منه العرش ؟ وما لك ولهذا السؤال ، قل ينزل واسكت يخلو منه العرش أو ما يخلو ، هذا ليس إليك ، أنت مأمور بأن تصدِّق الخبر ، لا سيما ما يتعلق بذات الله وصفاته لأنه أمر فوق العقول .

 "Kami katakan bahwa soal seperti ini sebenarnya soal yang berlebih-lebihan dan tidak layak disampaikan. Karena kita dapat balik bertanya, 'Apakah anda lebih bersungguh-sungguh dari para shahabat dalam memahami sifat Allah?' Jika dia mengatakan, 'Ya', maka sungguh dia telah dusta. Jika dia katakan, 'Tidak' maka kita katakan, 'Bersikaplah lapang seperti mereka bersikap lapang, mereka tidak menanyakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, misalnya dengan berkata, 'Wahai Rasulullah, jika Dia turun, apakah berarti Dia meninggalkan Arasy-Nya?' Untuk apa anda bertanya seperti ini. Katakan saja 'Dia turun' lalu diam, apakah Dia meninggalkan Arasy-Nya atau tidak, itu bukan urusan anda. Anda hanya diperintahkan untuk membenarkan kabar yang disampaikan, khususnya yang berurusan dengan dzat Allah dan sifat-sifat-Nya. Karena ini adalah perkara di luar kemampuan akal." (Majmu Fatawa Syekh Muhammad Al-Utsaimin, 1/204-205).

AFM

Copas dari berbagai sumber

Share:

AHLU SUNNAH,KOK JENGGOTNYA DI CUKUR HABIS? NABI SALLALLAHU ALAIHI WASALLAM AJA BERJENGGOT

 1.100+ Kutub Selatan Ilustrasi Foto ...

Banyak Hadist yang menjelaskan Masalah jenggot ini diantaranya:

✔️Hadits pertama, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى

“Potong pendeklah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.” (HR. Muslim no. 623)

✔️Hadits kedua, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوا اللِّحَى

“Selisilah orang-orang musyrik. Potong pendeklah kumis dan biarkanlah jenggot.” (HR. Muslim no. 625)

✔️Hadits ketiga, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

أَنَّهُ أَمَرَ بِإِحْفَاءِ الشَّوَارِبِ وَإِعْفَاءِ اللِّحْيَةِ.

“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memotong pendek kumis dan membiarkan (memelihara) jenggot.” (HR. Muslim no. 624)

✔️Hadits keempat, dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ

“Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.” (HR. Muslim no. 626)

✔️Hadits kelima, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْهَكُوا الشَّوَارِبَ ، وَأَعْفُوا اللِّحَى

“Cukur habislah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.” (HR. Bukhari no. 5893)

✔️Hadits keenam, dari Ibnu Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ ، وَفِّرُوا اللِّحَى ، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ

“Selisilah orang-orang musyrik. Biarkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis.” (HR. Bukhari no. 5892)

Ulama besar Syafi’iyyah, An Nawawi rahimahullah mengatakan, ”Kesimpulannya ada lima riwayat yang menggunakan lafazh,

أَعْفُوا وَأَوْفُوا وَأَرْخُوا وَأَرْجُوا وَوَفِّرُوا

Semua lafazh tersebut bermakna membiarkan jenggot tersebut sebagaimana adanya.” (Lihat Syarh An Nawawi ‘alam Muslim, 1/416, Mawqi’ Al Islam-Maktabah Syamilah 5)

Di samping hadits-hadits yang menggunakan kata perintah di atas, memelihara jenggot juga merupakan sunnah fithroh. Dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الإِبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ

“Ada sepuluh macam fitroh, yaitu memendekkan kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung,-pen), memotong kuku, membasuh persendian, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, istinja’ (cebok) dengan air.” (HR. Muslim no. 627)

Jika seseorang mencukur jenggot, berarti dia telah keluar dari fitroh yang telah Allah fitrohkan bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada penggantian pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Ruum [30] : 30)

Selain dalil-dalil di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sangat tidak suka melihat orang yang jenggotnya dalam keadaan tercukur.

Ketika Kisro (penguasa Persia) mengutus dua orang untuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menemui beliau dalam keadaan jenggot yang tercukur dan kumis yang lebat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka melihat keduanya. Beliau bertanya,”Celaka kalian! Siapa yang memerintahkan kalian seperti ini?” Keduanya berkata, ”Tuan kami (yaitu Kisra) memerintahkan kami seperti ini.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Akan tetapi, Rabb-ku memerintahkanku untuk memelihara jenggotku dan menggunting kumisku.” (HR. Thabrani, Hasan. Dinukil dari Minal Hadin Nabawi I’faul Liha)

Lihatlah saudaraku, dalam hadits yang telah kami bawakan di atas menunjukkan bahwa memelihara jenggot adalah suatu perintah. Memangkasnya dicela oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menurut kaedah dalam Ilmu Ushul Fiqh, ”Al Amru lil wujub” yaitu setiap perintah menunjukkan suatu kewajiban.  Sehingga memelihara jenggot yang tepat bukan hanya sekedar anjuran, namun suatu kewajiban. Di samping itu, maksud memelihara jenggot adalah untuk menyelisihi orang-orang musyrik dan Majusi serta perbuatan ini adalah fithroh manusia yang dilarang untuk diubah.

Berdasar hadits-hadits di atas, memelihara jenggot tidak selalu Nabi kaitkan dengan menyelisihi orang kafir. Hanya dalam beberapa hadits namun tidak semua, Nabi kaitkan dengan menyelisihi Musyrikin dan Majusi. Sehingga tidaklah benar anggapan bahwa perintah memelihara jenggot dikaitkan dengan menyelisihi Yahudi.

Maka sudah sepantasnya setiap muslim memperhatikan perintah Nabi dan celaan beliau terhadap orang-orang yang memangkas jenggotnya. Jadi yang lebih tepat dilakukan adalah memelihara jenggot dan memendekkan kumis

*** 

Share:

AQIDAH FIRAUN SAMA DENGAN WAHABI?

 Edisi Bantahan 

20 Fakta Menarik tentang Kutub Selatan

Ahlul bid'ah dan kelompok-kelompok menyimpang menuduh dan memfitnah ahlussunnah (yang mereka gelari wahabi) yang menyakini Allah Ta'ala di atas langit di atas ArsyNya seperti aqidahnya Firaun. Padahal Firaun menolak keberadaan Allah Ta'ala di atas langit. 

Ahlul bid’ah membalikkan fakta, sebenarnya aqidah mereka yang sama dengan aqidahnya Firaun yang tidak percaya Allah Ta'ala di atas langit di arsyNya. 

Allah Ta'ala berfirman, 

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَآأَيُّهَا الْمَلأُ مَاعَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَاهَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَل لِّي صَرْحًا لَّعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ

“Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”.” (QS. Al Qashash: 38)

Dan Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الأسْبَابَ (36) أَسْبَابَ السَّمَوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لأظُنُّهُ كَاذِبًا وَكَذَلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلا فِي تَبَابٍ (37) }

Dan berkatalah Fir’aun, "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.” Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian. (Surah Al Ghofir 36-37). 

Disebutkan dalam tafsir Thabari, 

وقوله : ( وإني لأظنه كاذبا ) يقول : وإني لأظن موسى كاذبا فيما يقول ويدعي من أن له في السماء ربا أرسله إلينا

“Makna ayat perkataan Fir’aun ‘sesungguhnya aku memandangnya (Musa) seorang pendusta’ yaitu Fir’aun menuduh Musa telah berdusta karena mengklaim memiliki Rabb di langit yang mengutus Musa kepada Fir’aun dan tentaranya.” (Tafsir At-Thabari)

Berkata Syekh As Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya, 

{ وَقَالَ فِرْعَوْنُ } معارضًا لموسى ومكذبًا له في دعوته إلى الإقرار برب العالمين، الذي على العرش استوى، وعلى الخلق اعتلى: { يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا }- أي: بناء عظيمًا مرتفعًا، والقصد منه لعلي أطلع { إلى إله موسى وإني لأظنه كاذبًا } في دعواه أن لنا ربًا، وأنه فوق السماوات.

Dan berkatalah Firaun, seraya menetang nabi Musa dengan mendustakan dakwah beliau untuk beriman kepada robbul ‘alamin yang beristiwa di Arasy dan maha tinggi di atas makhlukNya. “Hai Haman, buatkanlah bagikku sebuah bangunan yang tinggi.” Maksudnya, sebuah bangunan raksasa yang tinggi. Tujuannya adalah agar aku bisa melihat “Tuhannya Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta” dalam dakwahnya bahwa kita mempunyai Rabb, dan bahwa Rabb itu di atas langit sana. (Tafsir As Sa'di). 

Begitulah karakter dan watak ahlul bid'ah, kalau tidak berdusta dan memfitnah, ya membalikkan fakta. Dan menafsirkan ayat Alquran dan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam seenak udelnya saja. Tidak sebagaimana salafi, memahami dalil sebagaimana para salafushshaleh memahami. 

AFM 

Copas dari berbagai sumber 

Share:

BERPEGANG TEGUHLAH DENGAN AGAMA DI ZAMAN PENUH PERSELISIHAN

 Fawaid Hadist #156 | Taat Kepada ...

🎙 Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللّهِ وَالسّمْعِ وَالطّاعَة وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنّهُ مَنْ يَعِشْ مِّنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اِخْتِلَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُّنّتِي وَسُّنّة الخلفاء المهْدِيِيَن الرّاشِدِينَ تَمسّكُوا بِهَا وَعَضّوا عَلَيْهَا بِالّنّوَاجِذِ وَإِيّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأمُورِ فَإِنّ كُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعةضَلَالَة.

“Aku wasiatkan kalian bertakwa kepada Allâh, serta mendengar dan taat (kepada pemimpin kaum Muslimin), walaupun ia seorang dari kalangan budak Habasyah.

Sesungguhnya barangsiapa hidup sepeninggalku, niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Pegang teguh dan gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Serta jauhilah semua perkara baru dalam agama, karena semua perkara baru dalam agama adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah kesesatan.”

📚 (HR Abu Daud, no. 4607, At Tirmidzi no. 2676, Ibnu Hibban no.5, At Tirmidzi berkata: “hasan shahih”)

•┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈•

Share:

Recent Posts

Pages