Tabarruk ( التَّبَرُّك ), ditinjau dari bentuk katanya merupakan mashdar dari tabarraka-yatabarraku (تَبَرَّكَ – يَتَبَرَّكُ) yang artinya mencari barakah. Di kalangan masyarakat Indonesia (baca: Jawa), tabarruk lebih dikenal dengan sebutan “ngalap berkah”.
Di dalam kitab-kitab ulama ternama disebutkan bahwa barakah adalah kebaikan yang meliputi sesuatu dan senatiasa bertambah. Barakah hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala. Dari-Nya barakah itu bersumber dan dari-Nya pula diminta.
Asy-Syaikh al-Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Mencari kebaikan yang senantiasa ada dan bertambah itu (barakah, pen.) hanya-lah dari Dzat yang memilikinya dan mampu memberikannya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, Dia-lah yang menurunkan barakah tersebut dan menetapkannya. Adapun makhluk, sungguh tidak mampu memberikan barakah dan mewujudkannya. Tidak pula dia mampu mengukuhkan dan mengekalkannya.” (al-Irsyad ila Shahihil I’tiqad, hlm. 335)
Dengan segala hikmah-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala meletakkan barakah pada sebagian makhluk yang dipilih dan dikehendaki-Nya. Adakalanya pada tempat, manusia, waktu, amalan, sifat dan sebagainya. Semua itu sebagai tanda dari tandatanda kekuasaan dan prerogatif Allah subhanahu wa ta’ala atas seluruh makhluk-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُۗ
“Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” (al- Qashash: 68)
Jadi, penentuan bahwa tempat, manusia, waktu, amalan, sifat dan sebagainya itu berbarakah, tak bisa dengan main kira-kira atau asal duga, apalagi direkayasa. Tak bisa pula berdasar pada wangsit, primpen, atau ramalan “orang pintar”. Semuanya harus merujuk kepada dalil yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah.
Melacak Akar Tabarruk
Fenomena tabarruk alias ngalap berkah bukan hal baru dalam kehidupan umat manusia. Salah kaprah dalam memahami dan menerapkannya benarbenar menjerumuskan pelakunya ke dalam kubangan syirik. Kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam, salah satu bukti sejarahnya.
Alkisah, kala itu umat Nabi Nuh ‘alaihissalam sangat mencintai orang-orang saleh yang hidup di tengah-tengah mereka; Wadd, Suwa’, Ya’uq, Yaguts, dan Nasr. Dengan takdir Allah subhanahu wa ta’ala, lima orang saleh tersebut meninggal dunia dalam waktu yang berdekatan. Kepergian orang-orang mulia lagi terhormat yang selama ini membimbing dan mengarahkan mereka itu benar-benar menyisakan duka lara yang mendalam.
Sebagai bentuk penghormatan dan balas budi kepada mereka dibuatlah monumen berupa patung atau gambar mereka. Dipancanglah patung atau gambar mereka itu di tempat-tempat strategis, antara lain untuk mendobrak semangat ibadah dan kebaikan kala menyaksikan monumen para mendiang tersebut.
Kuburan mereka pun diistimewakan. Umat Nabi Nuh ‘alaihissalam ngalap berkah dari Allah subhanahu wa ta’ala di sisi kuburan orang-orang saleh tersebut. Itulah awal penyimpangan mereka, dan dari situlah penyimpangan berikutnya yang lebih besar (syirik) bermula.
Roda zaman berputar, generasi punberganti, sementara ilmu agama memudar seiring dengan wafatnya para ulama. Di saat itulah setan datang menggoda menyesatkan mereka.
Apa gerangan yang terjadi? Akhirnya, kuburan orang-orang saleh yang tadinya diistimewakan “sebatas” untuk tempat beribadah, berdoa, memohon berkah, rezeki, dan sebagainya dari Allah subhanahu wa ta’ala, kini menjadi tempat yang lebih sakral dan dikeramatkan.
Segala bentuk ibadah di sisi kuburan orang-orang saleh tersebut yang tadinya ditujukan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kini ditujukan kepada para penghuni kubur. Doa yang tadinya dipanjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kinidipanjatkan kepada orang-orang saleh tersebut. Rezeki, keselamatan, kesehatan, dan sebagainya yang tadinya dimohon dari Allah subhanahu wa ta’ala, kini dimohon langsu…
[09.39, 11/2/2026] Abu Aish (B Purwantara): ✔️Kalau tidak bermadzhab, gimana bisa memahami dalil-dalil? Apa dengan pemahaman sendiri?_✍️
Ini salah satu pertanyaan sinis terhadap sebagian saudara kita yang tidak bermadzhab. Bahkan sering di-framing, bahwa yang tidak bermadzhab berarti anti-pendapat ulama (madzhab).
Padahal ulama dan kaum Muslimin yang tidak bermadzhab bukan berarti memahami dalil dari pemahaman sendiri. Justru mereka tetap memahami dalil dari penjelasan para ulama (madzhab) tapi tidak terbatas (terikat/Fanatik) pada ulama madzhab tertentu.
Bahkan mereka ini semakin luas scope ulama yang bisa diambil perkataannya. Karena tidak berkutat pada pendapat ulama golongan tertentu. Selama penjelasan ulama tersebut sejalan dengan dalil dan memperjelas pemahaman terhadap dalil maka bisa diambil penjelasannya.
Sehingga, sebetulnya mereka juga bermadzhab. Sering diistilahkan dengan "madzhab ahlul hadits" atau "madzhab fiqhud dalil".
Bermadzhab dan tidak bermadzhab boleh saja. Namun yang jadi patokan utama tetaplah dalil.
Seseorang jika dalam suatu masalah, ia mengetahui dalilnya plus penjelasannya dari ulama, maka ia wajib ikuti dalil. Adapun masalah yang belum ia ketahui dalilnya, boleh baginya taklid kepada pendapat ulama, baik ulama madzhab atau ulama non madzhab.
Semoga Allah memberi taufik.
🖊Ustadz Yulian Purnama hafizhahullah
(Pelajar madzhab Hambali)
Home »
» Ada Apa dengan Tabarruk?






Tidak ada komentar:
Posting Komentar